Semangat Tanpa Batas, Udin Kelola Pabrik Sagu Aren dan Produksi Sendiri Demi Penuhi Kebutuhan Warga

banner 120x600

BARAYASUKABUMI.COM | SUKABUMI – Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, semangat pantang menyerah ditunjukkan seorang warga Kampung Kadudampit, Desa Kadununggal, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Pria yang akrab disapa Udin, penyandang tuna rungu, tetap mengolah sagu aren secara tradisional dengan mengerjakan hampir seluruh proses produksi seorang diri, mulai dari membeli pohon aren, menebang, mengangkut, menggiling hingga menuraskan sagu sebelum akhirnya dijual kepada masyarakat.

Aktivitas tersebut dilakukan Udin di sebuah pabrik penggilingan sagu aren di Kampung Kadudampit pada Sabtu (25/7/2026). Pabrik tersebut bukan milik pribadi Udin, melainkan milik Ibu Dewi, warga Cicurug. Udin dipercaya sebagai pengurus sekaligus pengelola pabrik. Saat tidak ada penyewa yang menggunakan pabrik, ia memanfaatkan waktu untuk memproduksi sagu sendiri agar kebutuhan masyarakat sekitar tetap terpenuhi.

Foto Pak Udin Warga Kadudampit sedang proses penurasan sagu aren (Deco,25/7)

Istri Udin, yang akrab disapa Bu Udin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang sengaja dilakukan untuk mengisi kekosongan produksi di pabrik.

“Biasanya ada tengkulak yang menyewa pabrik ini untuk memproduksi sagu dalam jumlah besar, lalu hasilnya dijual ke daerah Cibadak dan Cicurug. Karena sekarang sedang kosong, bapanya sengaja produksi sendiri supaya warga yang membutuhkan sagu tetap bisa membeli di sini secara eceran,” tutur Bu Udin.

Menurutnya, keterbatasan pendengaran yang dialami sang suami tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bekerja. Justru dengan semangat dan ketekunan, Udin tetap menjalankan seluruh tahapan produksi secara mandiri.

Mulai dari membeli pohon aren, menebang batangnya, mengangkut menggunakan motor egrang tanpa bantuan mobil, kemudian menggiling, menuraskan, mengendapkan hingga mengeringkan sagu, semuanya dilakukan dengan penuh kesabaran demi menghasilkan sagu berkualitas.

“Dari mulai nebang pohon sampai ngangkut ke pabrik pakai motor egrang. Tidak pakai mobil. Setelah itu digiling, diperas, diendapkan sampai jadi sagu. Hampir semuanya bapanya kerjakan sendiri karena sekarang ekonomi lagi sulit. Daripada pabrik kosong, lebih baik dimanfaatkan,” ungkap Bu Udin.

Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, produksi tersebut juga bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan sagu dalam jumlah kecil tanpa harus membeli ke luar daerah.

Bu Udin mengatakan, sagu kering hasil produksi mereka dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram. Sementara sagu basah di wilayah Cibadak dan Cicurug umumnya dihargai sekitar Rp6.000 per kilogram, namun biasanya dipasarkan dalam jumlah besar kepada pengepul.

“Kalau kami lebih memilih menjual eceran supaya warga mudah mendapatkan sagu. Sekarang bahan baku pohon aren juga mulai sulit dicari, jadi kami manfaatkan yang ada sebaik mungkin,” katanya.

Usaha yang dijalankan Udin menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Dengan kerja keras, kejujuran, dan semangat pantang menyerah, ia tetap menjaga keberlangsungan pengolahan sagu aren tradisional sekaligus membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Di tengah gempuran industri modern, kisah Udin menjadi inspirasi bahwa usaha kecil berbasis kearifan lokal masih memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga sekaligus melestarikan warisan pengolahan sagu aren yang kini mulai jarang ditemui di Kabupaten Sukabumi.

Penulis: Deco
Editor: TIM BARAYASUKABUMI.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *