
BARAYASUKABUMI.COM | SUKABUMI – Senin sore (20/7/2026), suasana hangat penuh keakraban terasa di ruang kerja Kepala Desa Mekarjaya, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Pertemuan yang dihadiri Kepala Desa Mekarjaya, Soleh, dan Kepala Desa Cihamerang, Dedih, bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman, refleksi, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Dalam perbincangan santai tersebut, Soleh, yang kini menjalani periode ketiga sebagai Kepala Desa Mekarjaya, mengungkapkan perjalanan panjang pengabdiannya selama hampir dua dekade memimpin desa. Menurutnya, perjalanan tersebut dipenuhi berbagai tantangan sekaligus keberhasilan yang menjadi pelajaran berharga.
“Saya sudah hampir kurang lebih 20 tahun mengabdi. Itu bukan waktu yang sebentar. Selama menjabat tentu ada plus minusnya. Saya juga sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai kepala desa. Namun berbicara soal pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara, tidak harus selalu menjadi pejabat. Sebagai warga biasa pun saya yakin masih bisa berbuat lebih leluasa sambil menikmati masa tua,” ujar Soleh.
Ia diperkirakan akan mengakhiri masa tugasnya atau purnabhakti pada akhir tahun 2031. Bagi Soleh, jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu, sedangkan pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal akhir.
Di tempat yang sama, Kepala Desa Cihamerang, Dedih, menyampaikan pandangan yang tak kalah inspiratif. Menurutnya, seorang pejabat publik harus memiliki kesiapan untuk menerima kritik sebagai bagian dari proses membangun desa yang lebih baik.

“Sebagai pejabat publik, kita harus siap dikritisi oleh masyarakat. Saya justru menganggap itu sebagai spirit dan penyemangat agar pembangunan desa bisa terus berjalan sesuai harapan, meski dilakukan secara bertahap,” ungkap Dedih kepada BARAYASUKABUMI.COM.
Dedih menjelaskan, tantangan memimpin Desa Cihamerang tidaklah ringan. Selain memiliki jumlah penduduk yang hampir mencapai 10 ribu jiwa, wilayah desanya juga cukup luas. Di sisi lain, anggaran pembangunan yang bersumber dari APBN mengalami penurunan sehingga membutuhkan strategi dan skala prioritas dalam pelaksanaan pembangunan.
“Saya tidak terlalu memikirkan soal masa jabatan. Yang saya pikirkan hari ini adalah bagaimana menjawab kebutuhan masyarakat dan merealisasikan agenda pembangunan, terutama infrastruktur desa, hingga akhir masa kepemimpinan saya,” tegasnya.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, kedua kepala desa sepakat bahwa keberadaan Dana Bonus Produksi menjadi salah satu sumber pendanaan yang sangat membantu mempercepat pembangunan desa dan meringankan beban pembiayaan berbagai program yang belum dapat sepenuhnya terakomodasi melalui anggaran pemerintah.
Pertemuan sederhana di ruang Kepala Desa Mekarjaya itu menjadi gambaran bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan, melainkan tentang komitmen, ketulusan, dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat. Pengalaman yang dibagikan kedua kepala desa tersebut menjadi inspirasi bahwa kritik bukanlah hambatan, melainkan energi untuk terus berbenah, sementara masa jabatan hanyalah batas administrasi dari sebuah pengabdian yang sejatinya tidak pernah berakhir.
Penulis: Dedi Cobra
Editor: Tim BARAYASUKABUMI.COM



