Petani Bah Karma, Tetap Tangguh Bertani di Tengah Kemarau dan Ancaman Hama

banner 120x600

BARAYASUKABUMI.COM – SUKABUMI – Di tengah musim kemarau, semangat bertani tetap menjadi bagian dari keseharian Bah Karma, seorang petani handal yang ditemui di kawasan hutan Kampung Cigoong, lokasi wisata Curug Batu Bodas, Kamis (27/8/2026).

Bah Karma memilih memanfaatkan lahan di sekitar kawasan hutan untuk bercocok tanam berbagai jenis palawija. Mulai dari padi hingga aneka sayuran menjadi bagian dari aktivitas pertaniannya sehari-hari.

 

Menurutnya, kondisi harga komoditas pertanian saat ini cukup beragam. Buncis dan bonteng (timun) sedang memiliki harga yang relatif baik, sementara harga tomat justru mengalami penurunan.

“Sekarang yang lumayan mahal buncis dan bonteng. Kalau tomat sedang anjlok,” ujar Bah Karma.

Namun, bertani di kawasan yang berdekatan dengan hutan bukan tanpa tantangan. Selain menghadapi kondisi kemarau, para petani juga harus berhadapan dengan berbagai jenis hama yang sewaktu-waktu dapat mengganggu tanaman.

Bah Karma menuturkan, keberadaan hama menjadi persoalan yang hampir selalu dihadapi petani, terlebih lokasi kebun yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Bahkan pada malam hari, sebagian petani harus melakukan penjagaan untuk mengantisipasi tanaman dirusak hewan liar seperti babi hutan dan monyet.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Bah Karma untuk terus bertani. Baginya, bertani bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga lahan tetap produktif sekaligus mempertahankan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

Kisah Bah Karma menjadi gambaran bahwa petani di pelosok tetap bekerja keras menghadapi perubahan musim, fluktuasi harga dan ancaman hama demi menghasilkan pangan bagi masyarakat.

Di balik hijaunya kawasan Curug Batu Bodas, tersimpan cerita perjuangan para petani yang terus menjaga tanah dan tanaman dengan ketekunan. Sebuah pelajaran sederhana bahwa hasil pertanian yang sampai ke meja makan masyarakat lahir dari kerja keras, kesabaran dan perjuangan panjang para petani.

Reporter: Dedi Cobra
BARAYASUKABUMI.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *