BARAYASUKABUMI.COM – SUKABUMI — Di balik dinding rumah yang sederhana, tersimpan kecemasan sejumlah warga Kampung Tugu, RT 06/RW 02, Desa Palasarigirang, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Mereka tidak menuntut rumah mewah, hanya berharap memiliki tempat tinggal yang aman dan layak untuk berlindung dari hujan maupun terpaan angin.
Salah satunya Esih. Ia mengaku hanya menginginkan rumah sederhana yang mampu memberikan rasa aman bagi keluarganya.
“Saya ingin punya bantuan rumah. Tidak perlu mewah dan bagus, yang penting tidak roboh ketika ada angin dan tidak bocor ketika hujan. Itu sudah cukup bagi saya, karena saya orang tidak mampu untuk membangun rumah sendiri,” tutur Esih, Sabtu (15/8/2026).
Harapan tersebut bukan baru disampaikan. Menurut Esih, kondisi rumahnya telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah desa sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga kini, bantuan yang dinantikan belum kunjung datang.
Keluhan serupa juga dirasakan Eti, tetangga Esih yang kondisi rumahnya tidak jauh berbeda. Ia mengaku rumahnya juga sudah beberapa kali didokumentasikan untuk keperluan pengajuan bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu).
“Hal senada, iya Pak. Ini juga dulu sudah beberapa kali ada yang memotret bagian dalam rumah. Semuanya sudah difoto, kalau tidak salah sekitar tujuh tahun yang lalu. Ada yang dari desa, ada juga dari mana saya kurang tahu. Pokoknya katanya mau dapat bantuan rutilahu, tetapi sampai sekarang belum ada,” ungkap Eti.
Meski telah menunggu bertahun-tahun, Eti mengaku masih menyimpan harapan agar bantuan tersebut benar-benar terealisasi.
“Mudah-mudahan saja sekarang mah, Pak, bisa ada bantuan,” harapnya.
Kepala Desa Palasarigirang membenarkan kondisi rumah Esih dan keluarganya yang dinilai cukup mengkhawatirkan. Pemerintah desa juga mengaku telah berupaya mengajukan bantuan, bukan hanya untuk rumah Esih, tetapi juga sejumlah rumah warga lain yang kondisinya serupa.
“Insyaallah pada September nanti pihak Desa akan memberikan bantuan sebesar Rp10 juta dalam bentuk material. Bantuan tersebut bersumber dari dana bonus produksi panas bumi,” jelas Kepala Desa Palasarigirang.
Namun, bantuan tersebut diperkirakan belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembangunan rumah. Karena itu, pihak keluarga Esih diharapkan dapat mempersiapkan dan menabung material tambahan yang diperlukan agar ketika pembangunan dilaksanakan, kekurangannya tidak terlalu besar.
“Kita sebetulnya sudah membuat pengajuan. Bukan hanya rumah tersebut, di kampung lain juga masih banyak yang kondisinya sama. Sudah diajukan oleh pihak desa, tetapi sampai hari ini belum ada yang turun,” tambahnya.
Bagi Esih dan Eti, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat berlindung, tempat pulang, sekaligus ruang kecil untuk menggantungkan harapan.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin ketika hujan turun, tidak dihantui kebocoran, dan ketika angin datang, tidak dihantui rasa takut rumah akan roboh.
Sebab bagi warga yang serba terbatas, rumah yang layak bukan tentang indahnya bangunan, melainkan tentang ketenangan hati ketika malam tiba.
Penulis: Dedi Cobra
Editor: Tim BarayaSukabumi.com















